A Song For My Juliette

13 Des

 

READER !!! ANNYEONG 😀 *caps jeblok*

author balik nih, yeay yay yeay ! sejak sekian lama hiatus, author balik tapi bukan pake ff buat sendiri, ini hasil karya saeng onn 😀 namanya dian, jadi happy reading ya 😀

bentar lgi ff-ff dari author bakan berjalan terus kok, tenang aja 😀

Kugenggam setangkai mawar ini erat, kucium sesekali wangi dari bunga itu. Yeoja itu pasti menyukainya. Dengan sebuah gitar yang kupikul dan setangkai mawar putih itu, aku mulai berjalan mendekati yeoja yang sedang duduk santai sambil membaca novel di kursi taman itu. Im YoonA namanya, gadis yang berparas cantik walaupun dengan beanie yang menutupi rambutnya itu dan kaca mata berbingkai tebal yang menutupi wajahnya yang sangat indah.

“Yoong” suara sensual memanggil nama panggilan yeoja itu terdengar. Dan pastinya bukan keluar dari mulutku. Kim Kibum, sepupuku yang merupakan namja chingu yeoja itu.

Yeoja itu tersenyum. Dia melepas kaca mata bacanya, Kibum hyung merupakan kekasih Yeoja itu hingga hampir lebih dari 2 tahun. Kibum hyung sangat menyayangi yeoja itu. Begitu pula dengan Yoona. Yoona sebetulnya masih merupakan noonaku, tapi katanya “aku tak ingin terlihat tua, aku ingin dipanggil Yoona saja, lebih akrab dan lebih praktis”

Aku mengurungkan niatku untuk memberi Yoona bunga itu sekarang. Aku duduk di salah satu kursi taman kota itu. Yang terjauh dari mereka namun tetap bisa mengamati mereka, dari kejauhan. Ya, aku tak berani mendekati mereka. Mereka terlalu sempurna. Pernah sekali aku ketahuan oleh Kibum hyung mengintip yeoja-nya. Dan dia bukannya marah melainkan menyuruhku untuk terus menjaganya.

“beeep” handphone dalam saku jaket hitamku berbunyi. Aku menatap layarnya. Choi Ji Eun. Aku membaca pesan singkat darinya..

Oppa, kau bilang akan datang sekarang? Sulli eonnie sudah bangun, tapi dia bangun dengan mood yang tak baik. Kupikir mawar putih akan lebih baik. Bawa ya, aku sudah berjanji padanya kalau kau pasti membawanya. Adik imutmu, Choi Ji Eun.

Aku tersenyum melihat pesannya. Aku menatap mawar putih yang tadinya untuk Yoona itu.

“ya ! Cheondung-aa” aku menoleh. Kibum hyung. “sedang apa kau disini?” tanyanya lagi.

“aa… ige… ah,, eobseo..aku hanya mencari udara segar.” Kilahku sambil berusaha menyembunyikan bunga mawar putih itu ke balik punggungku. Tapi sepertinya dia menyadari sesuatu, “apa itu?” tanyanya. Aigooo. Kalau saja dia tidak dianugerahi mata sejeli itu. “ah, tak ada apa apa” kilahku lagi. “aaa,, geurae geurae, ternyata sejak sepupuku ini mempunyai yeoja chingu kau jadi sering berbohong, apalagi dengan bunga mawar putih itu kan?” GLEK. Aku hanya bisa menelan ludah. “annyeo, ini hanya bunga hadiah untuk fans pertamaku” jawabku, toh Yoona itu fans pertamaku, dia yang bilang sendiri padaku begitu pada saat pertama kali debut. “ooh, arasseo arasseo, lalu mana fans mu itu?” tanyanya. “dia tak bisa datang hari ini, sepertinya dia sudah mepunyai jadwal lain. Aku buru buru. Bunga ini untukmu saja hyung. bye.” Ucapku sambil buru buru meninggalkan Kibum hyung itu. Makin lama aku disana, makin banyak kebohongan yang kubuat. “ya ! Cheondung-ah !!!” aku berusaha lari secepat mungkin menghiraukan panggilan hyung ku itu, mungkin orang orang disekitarku sedang menatapku aneh tapi, aku harus pergi dari kibum hyung. Terakhir kulihat Kibum hyung hanya mengangkat bahunya sambil memutar badannya ke arah kursi tempat Yoona duduk tadi.

“annyeong” aku melangkah masuk ke kamar rumah sakit ini. Terlihat seorang wanita menatap jendela dengan kaki kirinya yang  ditopang oleh tongkat itu. Choi Sulli.

“annyeo…ng” salamnya terhenti saat mendapati kedua tanganku tak berisi apapun, hanya kunci mobil sedan sport hitamku. “ya ! berani sekali kau berbohong padaku !” teriaknya sambil memukul lengan kiriku. “awww…” ringisku sambil mengelus lengan kiriku yang malang. Oh iya, aku melupakan bunganya karena buru buru tadi. Seseorang dengan terburu buru keluar dari kamar mandi yang berada di sudut kamar rumah sakit.  Ji Eun. “sulli eonnie ada apa? Eh? annyeong oppa” salamnya hangat padaku sambil tersenyum manis.  Beda dengan adiknya ini, Sulli sangatlah galak, dan kadang terkesan aneh menurutku. Kadang baik kadang galak.

“keluaaaar kaliaaan !!!!”

juliette

 

“kenapa bisa lupa?” tanya Ji eun seraya berdiri di luar kamar rawat Sulli.

“aku tak lupa.” Jawabku singkat. “hanya saja terburu buru?” tambahku.

“mwoya? yoona eonnie?” tebaknya. Sudah kuduga, anak ini sepertinya tahu semua tentangku.

“ne” aku mengangguk pelan nan singkat.

“yaaah, kau ini Oppa, kalau tau begini aku kan……. ucapan Ji Eun terhenti saat suster suster dengan langkah terburu buru masuk ke kamar dimana Sulli dirawat. Apalagi kelakuan yang dilakukan yeoja ini.

Sulli mengidap penyakit asma, dan menakibatkan jantungnya berdetak lebih lemah dari manusia normal. Kejadian ini bermula saat kemarin, ketika praktek olah raga. Kami mengambil nilai lari berantai dengan lari 3 keliling lapangan. Apalagi ketika itu aku sengaja mengusilinya dengan tak mengambil gulungan kertas nya itu sehingga dia diminta untuk berlari mengejarku lebih jauh lagi. Dan napasnya tak sanggup sehingga memaksa dirinya untuk pingsan di tempat itu, tanah berpasir nan lebek dengan sedikit gumpalan gumpalan tanah yang membatu. Mau tak mau ini kesalahanku dan aku harus bertanggung jawab.

 

Dia pingsan, dia tak seharusnya berteriak dalam keadaan seperti tadi. Suaranya memicu jantungnya untuk berdetak lebih cepat. Dan keadaan jantungnya sedang tak stabil. Sedang menunggu Sulli sadar, aku mulai membuka tas gitarku dan mulai memetik senar gitar.

Quasimodo

Aku menghentikan permainan gitar akustik ku saat kusadari ada sepasang mata yang menatapku. Aku melihatnya, dia mengalihkan pandangan matanya. Aku tersenyum menyeringai.

“sudah sadar?”tanyaku kemudian kembali serius menatap gitarku. Dia terkaget, kemudian mengangguk. “kau suka ya?” tanyaku lagi “suka apa?” tanyanya. “itu…. “ jawabanku terhenti saat  handphoneku bergetar.

Yoona.

Aku sedang menuju ke sana.

“Yoona eonnie ya?” aku mengangguk. Hanya Dia dan saudaranya yang tahu tentang perasaanku pada sunbae ku ini. Terakhir kutatap matanya, terbesit rasa tak suka disana.

“wae?” tanyaku padanya. “molla, mana Ji Eun?” tanyanya mengalihkan pembicaraanku.”belum pulang sekolah” jawabku. Sejenak suasana sunyi. Sampai…

“annyeong” ucap seseorang sambil membuka pintu kamar itu. Dia datang lebih awal dari dugaanku. Dia sendirian dengan sebuket mawar pink di tangannya.

“annyeong” salam kami berdua serempak. Kami menatap sebentar kemudian mengalihkan pandangannya masing masing. Yoona hanya terkikih geli. “kalian sangat serasi” pujinya.

“kau datang kesini bersama siapa?” tanyaku. “bus” jawab Yoona sambil meletakkan bunga yang dibawanya kemudian mencubit pipi Sulli gemas. Yoona sangatlah  menyukai pipi Sulli. Katanya; pipi Sulli itu Seni.

“Ssul, cepatlah sembuh, cheondung terus menunggumu” goda Yoona pada Sulli. Sekejap pipi gadis itu langsung bersemu merah. “ya !” “hanya bercanda” ucapnya halus di sela tawanya. Neomu yeppeo.

Microphone kamar rumah sakit berbunyi. “tes jalan akan dimulai 35 menit lagi”

“ssul, kau ikut tes jalan?” tanyaku. “molla, aku tak tahu, aku belum pernah mengikuti program ini sebelumnya, Ji Eun dan Siwon oppa yang mengurus ini semua.” Jelasnya. Aku diam. Siwon hyung, Ji Eun, kalian dimana? Jari jariku mulai menekan nekan layar handphone.

“Maaf, aku tak tahu. Tapi sepertinya tidak, atau lebih tepatnya coba tanyakan Ji eun, dia yang lebih tahu. Aku hanya mengatur uang”. Oppa macam apa dia? Dan saudara satu lagi. “Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi”

“bebeep” suara handphone Yoona terdengar. Dia memberi kode sebentar pada kami kemudian keluar kamar sebentar.

 

“maaf Ssul, Cheondung-ii, aku harus pergi, ada rapat keluarga mendadak” pamit Yoona sambil mengambil tasnya yang berada di atas sofa itu.

“ne, aku yang akan mengantarmu, kau turun duluan” ucapku. “annyo, temani Sulli disini, sendirian, kasihan” tolaknya. Namun aku tetap berkeras akan tetap mengantarnya pulang. mau tak mau dia setuju. Dia sedang menunggu di tempat parkir saat.

“jamkkanmman” suara halus itu terdengar.

“mwo?”

“temani aku disini” ucapnya halus.

“wae??”

“sepertinya aku mengikuti tes jalan, dan aku tak pernah mengikuti ini sekalipun, aku tak tau dimana dan aku….

“maaf Ssul, aku buru buru” ucapku sambil membuka pintu kamar rawatnya dan menutupnya kembali.

“aku mencintaimu” ucapnya pelan. Aku terdiam. Sepertinya aku salah dengar.

 

“kenapa kau memaksa untuk mengantarku?” tanya Yoona polos.

“mwo? tak bolehkah berbakti pada calon kakak?” godaku, semburat merah tampak di wajahnya. Aku tersenyum menyeringai sambil memutar ke kiri stir mobilku.

“ya ! berhenti menggoda. Kau tahu kan Sulli jauh lebih membutuhkanmu dari pada aku, sepertinya kau harus tetap disana. aku bisa sendiri kok. Aku bisa meminta Kibum oppa mengantarku atau aku bisa naik transportasi umum” sarannya. Kibum lagi Kibum lagi. Aku hanya tersenyum.

“noona, apa kau mencintai Kibum Hyung?” tanyaku. Dia menatapku aneh. “apa maksudmu? ya, aku sangat mencintainya.” Jawabnya singkat “hey, kau masih ingat kan, aku tak suka di panggil…….. “ “noona, saranghaeyo”

 

Aku memasuki  kamar rawat Sulli. Sepi tak seperti biasanya. Tak ada barang barang lagi, kemana Sulli? Aku bergegas ke lobby rumah sakit tempat perawat perawat berkumpul. Kenapa mereka menangis? Ha ! suster menangis !. “mian suster, saya mau tanya, kamar 309 pasiennya dimana ya?” tanyaku. Suster itu terdiam lalu memintaku untuk mengikutinya. Sampai di ruang jenazah. Omo? Sedang apa aku disini? Kenapa Siwon hyung dan Ji Eun ada disini? Mata mereka kenapa begini sembap. Perasaanku mulai tak enak. Hatiku serasa teriris dan jantungku serasa tak berdetak lagi. Apalagi saat kulihat perawat pria itu mendorong troli (?) mayat. Tampak wajah Sulli yang begitu pucat, bibirnya memutih. Aku tak sanggup mengatakan apapun. Badanku terhempas jatuh begitu saja. Bahkan sebuket mawar putihku yang baru saja kubeli untuknya telah jatuh, dan beberapa kelopak bunganya sobek. Siwon hyung sadar akan keeradaanku,  dia kemudian  mendekatiku dan memeluk badanku. “dia pergi terlalu cepat”

 

Yoona menolakku, dia bilang dia juga mencintaiku tapi hanya sebatas adik. Dia juga bilang kalau ada yang lebih mencintaiku dari pada dia, dan aku sadar itu Choi Sulli. Dia tak pernah mengeluh atas sikapku yang kurasa kejam padanya. Mian. Aku membeli sebuket mawar putih untuknya, bunga kesukaan Sulli. Tapi kini Sulli ku pergi, karena aku. Aku meninggalkannya hanya demi seorang wanita yang sudah memiliki namjachingu. Penantian yang sangat gantung.

 

Kutatap  batu nisan di depanku ini, tak menghiraukan celana hitamku kotor, aku duduk bersimpuh seraya mulai membersihkan batunya dan meletakkan sebuket mawar putih lagi di samping batu nisannya, kemu “jagi-ah, neomu nado saranghaeyo” .

Iklan

3 Tanggapan to “A Song For My Juliette”

  1. la 17 Desember 2011 pada 14:06 #

    bagus thor.
    buat ff yg pairingnya sulli-cheondung ya aku suka banget
    juga yang its you nya dilanjutin dong thor

  2. haesica couple 1 Januari 2012 pada 14:06 #

    wah keren chingu . . .
    Daebakkk ! ! !

  3. Vinasullifans 11 Maret 2012 pada 14:06 #

    Tolong dong lanjutin it is love ceritanya oke tp kalo gk di lanjutin sayangkan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: